Warga tiga desa,yakni Tanjung Menang,Jemeneng,dan Desa Kasih Dewa, Kecamatan Rambang Dangku,menghentikan paksa proyek perbaikan jalan PT Pertamina, Rabu (6/10) pagi.
Sekitar pukul 09.00 WIB, ratusan warga ketiga desa itu menghalangi para pekerja proyek perbaikan jalan desa yang dilakukan PT Pertamina. Pasalnya, warga menilai Pertamina hanya melakukan perbaikan tambal sulam yang mengakibatkan dalam waktu tidak lama jalan yang diperbaiki kembali rusak. Koordinator aksi Andi mengatakan, PT Pertamina tidak konsisten melakukan perbaikan jalan di tiga desa.Akibat perbaikan yang tidak total tersebut,warga merasa dirugikan.
“Perbaikan yang hanya tambal sulam hanya kuat menahan beban kendaraan dalam jangka waktu 1–2 bulan.Seharusnya Pertamina melakukan perbaikan jalan dengan mengecor jalan yang ada,” ujar Andi kemarin. Sementara itu,anggota DPRD Muara Enim Hendri Gunawan mengatakan, perbaikan jalan yang dituntut warga itu sudah menjadi kesepakatan bersama antara Pemkab Muara Enim dan PT Pertamina.
Perbaikan jalan dilakukan dari Desa Tebat Agung menuju Desa Jemeneng, Kecamatan Rambang Dangku, sepanjang 4 km. “Nah, perbaikan jalan itu berdasarkan kesepakatan bersama antara Pemkab Muara Enim dan PT Pertamina,”ujar Hendri. Anggota DPRD asal Rambang Dangku ini menjelaskan, jalan yang diperbaiki itu nantinya menjadi jalan kabupaten.Pemkab Muara Enim telah menganggar-kan dana perbaikan sebesar Rp1,5 miliar dari APBD 2010 untuk perbaikan jalan sepanjang 2,1 km.
Sedangkan, PT Pertamina melakukan perbaikan dari Desa Kasih Dewa hingga Desa SP 11 Je-meneng sepanjang 1,6 km dengan menelan dana sebesar Rp170 juta. “Hal inilah yang menjadi penolakan warga karena PT Pertamina melakukan perbaikan jalan hanya tambal sulam yang seharusnya dilakukan pengecoran beton. Karena kendaraan PT Pertamina yang melintas selalu melebihi tonase.
Jadi, jika tambal sulam, jalan yang ada tetap rusak,” ungkapnya. Hendri menambahkan, seharusnya PT Pertamina konsisten dengan kesepakatan yang ada.Karena jalan yang diperbaiki itu merupakan jalan warga dan untuk kepen-tingan pihak perusahaan sendiri.
“Wajar saja jika masyarakat menghentikan pengerjaan jalan yang ada karena dilihat dari proyeknya saja terkesan asal-asalan saja dan itu sudah sering dilakukan.Bahkan jalan setelah diperbaiki kembali rusak karena tonase yang ada melebihi kekuatan jalan,”papar Hendri.
Kamis, 07 Oktober 2010
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar