Jumat, 09 Juli 2010

Kekalahan yang Membanggakan

Biasanya, sebuah kekalahan terasa menyakitkan. Namun, saya melihat kekalahan Jepang melawan Paraguay dalam pertandingan 16 Besar di Stadion Loftus Versfeld, Pretoria, adalah kekalahan yang membanggakan. Menurut Mbah Gendeng bahwa Seandainya Indonesia sampai di 16 Besar Piala Dunia dan bermain seperti Jepang, lalu kalah seperti Jepang melawan Paraguay dengan adu penalti yang sangat dramatis,maka saya akan tetap menyampaikan rasa bangga saya.Saya akan datangi mereka dan saya dekap mereka dengan air mata haru dan bangga. Selasa malam Rabu kemarin sengaja saya rehat dari menulis skenario untuk Mega Sinetron Ketika Cinta Bertasbih Special Ramadhan, demi menyaksikan pertandingan bersejarah Jepang melawan Paraguay.

Meskipun dalam hati saya membela Jepang, tetapi saya sempat memprediksi bahwa Jepang akan dikalahkan Paraguay paling tidak satu kosong. Seperempat jam lebih di babak pertama, Jepang dan Paraguay begitu hati-hati.Tetapi saya sempat dibuat terpukau oleh gebrakan-gebrakan Jepang.Yoshito Okubo membuat tembakan yang mengancam gawang Paraguay, tetapi sayang tembakannya menyamping dari gawangJusto Villar.Lalu YuichiKomanomelepas tembakan jarak jauh dari sayap kanan. Tembakan itu cukup berkelas,sayangnya terlalu pelan dan bisa ditangkap Villar. Pasukan Samurai Biru terus memainkan jurusnya.

Daisuke Matsui memburu bola liar dan berusaha keberuntungannya dengan melakukan tembakan jarak jauh, tetapi bola hasil tembakannya itu membentur mistar gawang.Saya sampai ”gelo”tembakan itu tidak masuk gawang. Jujur, saya semakin terpesona pada Jepang.Gestur tubuhnya tidak beda jauh dengan orang Indonesia,mereka juga makan nasi seperti kita.Tetapi wuih,mampu meladeni kehebatan tim dari Amerika Latin itu dengan baik. Dan saat Matsui dan Keisuke Honda melakukan kerja sama yang cantik menusuk pertahanan Paraguay, saya sempat menegakkan badan untuk merayakan gol.Sayang, tembakan Honda masih menyamping dari sasaran.

Di babak kedua,Jepang kembali menampilkan permainan berkelas. Saya sampai bertanya- tanya,”Jepang kok bisa seperti itu ya? Ini lawan Paraguay,Amerika Latin lho!” Saya terkesima dengan disiplin luar biasa yang diperlihatkan para defender Jepang.Pada awal babak kedua, Nestor Ortigoza membuka pertahanan Jepang untuk menciptakan kesempatan melakukan tembakan, tetapi Yuto Nagamoto berhasil meluncur untuk menggagalkan terjadinya gol. Nestor Ortigoza memang berhasil menembus kotak penalti Jepang usai bertukar umpan dengan rekannya.

Namun, barisan belakang Samurai Biru berhasil mencegah Ortigoza untuk melakukan tembakan. Selain Nagamoto, kedisiplinan luar biasa diperagakan oleh Yuji Nakazawa.Pemain inti pertahanan Jepang ini melakukan tindakan penyelamatan yang heroik. Dia melakukan gerakan melayang untuk menghentikan laju bola yang mengarah ke mulut gawang dan menggagalkan kesempatan Benitez pada saat Paraguay mulai menekan Jepang. Walhasil, sampai wasit meniup peluit panjang, kedudukan masih kosong-kosong. Saya langsung berkaca-kaca.

Jepang, yang gestur tubuhnya tak beda jauh dengan Indonesia bisa beradu kekuatan dan keahlian dengan tim Amerika Latin yang memiliki pemain-pemain top sekaliber Roque Santa Cruz,Antolín Alcaraz,Lucas Barrios dan Néstor Ortigoza. Dalam waktu tambahan,giliran sang kiper, Kawashima melakukan penyelamatan. Lucas Barrios yang menerima umpan silang menyundul bola ke arah gawang Jepang. Jabulani mendarat tepat di tangkapan Kawashima.

Paraguay kembali merangsek.Morel yang bergerak di sayap kiri mengirimkan bola ke Nelson Valdez yang berada di dekat kotak penalti.Selanjutnya Valdez yang dikawal Tulio berlari ke arah gawang Jepang. Kawashima melakukan tindakan cerdik.Dia bergerak maju mematahkan peluang itu. Setelah itu, Jepang kembali mengancam gawang Paraguay.Keisuke Honda melakukan tendangan bebas di menit ke-98.Tembakannya memaksa kiper Justo Villar untuk menjatuhkan diri guna menyelamatkan gawangnya. Empat menit menjelang berakhirnya perpanjangan waktu, Jepang memiliki peluang matang.

Okazaki yang lolos ke kotak penalti lawan selanjutnya mengirim bola ke tengah, namun sayang,tak ada yang menyambut. Sampai waktu habis, kedudukan tetap kosong-kosong. Akhirnya penentuan siapa yang menang dan kalah dengan adu penalti. Dalam adu penalti yang mendebarkan ini, tendangan Yuichi Komano gagal merobek jala Villar karena membentur mistar gawang. Sementara seluruh pemain Paraguay berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Jepang harus rela kalah dari Paraguay 5-3. Yuichi Komano menangis, para pemain Jepang menangis,para pendukung Jepang pun menangis.Saya juga sempat terharu.

Tetes air mata saya bukan tetes air mata kesedihan, tetapi haru dan bangga. Jepang bisa berdiri sama terhormatnya dengan bangsa-bangsa lain di pentas Piala Dunia.JikakitabisadisiplinsepertiJepang,maka kita pun pasti bisa! Kita dan Jepang samasama bangsa yang makanan pokoknya adalah nasi! Sering kali saya bertanya-tanya apa yang membedakan bangsa Jepang dengan Indonesia. Sama-sama bangsa Asia.Gestur tubuh tidak jauh beda.Makanan pokok hampir sama.Tetapi kenapa Jepang bisa sedemikian maju,bahkan sejajar dengan negara maju seperti Amerika, Inggris,dan Jerman? Dalam bidang sepak bola pun kini mereka menunjukkan kemajuan luar biasa.

Setelah saya berkunjung ke Jepang beberapa waktu yang lalu atas undangan dari KBRI Tokyo, saya menemukan jawaban yang selama ini sering saya dengar.Sama seperti yang ditulis Ann Wang Sen dalam Rahasia Bisnis Orang Jepang. Ternyata, keberhasilan dan kehebatan bangsa Jepang terletak pada disiplin kerja mereka yang tinggi. Disiplin itulah yang membentuk sikap dan semangat kerja keras pada bangsa Jepang. Disiplin juga menjadikan mereka patuh pada perusahaan dan mau melakukan apa pun demi keberhasilan perusahaan mereka.

Dalam pikiran dan jiwa mereka hanya ada keinginan untuk melakukan pekerjaan sebaik mungkin.Mereka mencurahkan seluruh komitmen pada pekerjaan. Teman-teman mahasiswa Indonesia di Jepang bercerita, di Jepang,disiplin dikaitkan dengan harga diri. Jika mengalami kegagalan, maka bukan organisasi dan perusahaan yang menanggung malu, melainkan para pekerja yang akan merasa malu dan kehilangan harga diri.Orang Jepang bisa bunuh diri hanya karena gagal menjalankan tugas perusahaannya. Jadi, untuk menjaga harga diri,nama,dan citra diri yang baik,mereka harus memastikan keberhasilan organisasi dan perusahaan.

Oleh karena itu, tidak heran orang Jepang sanggup bekerja mati-matian untuk memajukan perusahaandanorganisasinya. Merekasenangjika disebut sebagai pekerja keras.Mereka merasa dihargai jika diberikan pekerjaan dan tugas yang berat.Sebaliknya,mereka merasa terhina dan tidak berguna jika tidak diberikan suatu pekerjaan yang menantang.Orang Jepang rela menghabiskan waktu mereka di tempat kerja daripada pulang lebih cepat ke rumah. Keadaan ini sangat berbeda dengan budaya kerja orang Indonesia yang biasanya selalu ingin pulang lebih cepat.

Sebagian dari kita menganggap pulang bekerja lebih cepat merupakan suatu cerminan status sosial yang lebih tinggi. Hal itu berbeda dengan pandangan orang Jepang. Di Jepang, orang yang pulang lebih cepat dianggap sebagai pekerja yang tidak penting dan tidak produktif.Ukuran nilai dan status orang Jepang didasarkan pada disiplin kerja dan jumlah waktu yang dihabiskannya di tempat kerja. Disiplin dan etos kerja termasuk jenis tabiat. Dan tidak mudah untuk mengubah tabiat.Terutama mengubah tabiat yang tidak baik menjadi baik. Perlu proses.

Karenanya, mari kita berproses. Kita pelajari sejarah bangsa-bangsa yang sukses, kita lihat bersama bagaimana mereka bisa sukses. Menurut Nggo Kontes bahwa Jalan baik yang bisa kita ikuti,mari kita ikuti. Dalam pertandingan Jepang melawan Paraguay, ada hikmah yang bisa kita petik. Selamat menonton bola, semoga hikmahhikmah lainnya bisa kita dapat dalam pertandingan-pertandingan berikutnya.

0 komentar:

Copyright © 2012 Agus All Rights Reserved Sepeda Motor Injeksi Irit Harga Terbaik Cuma Honda Promo Member Alfamart Minimarket Lokal Terbaik Indonesia