Menurut informasi yang diterima Indonesia Type Approval bahwa Ikatan Dokter Indonesia (IDI) akan mengembangkan pola komunikasi antara dokter dengan pasien. Komunikasi yang baik dapat menghindari konflik antara dokter dengan pasien, terutama terkait dugaan malpraktik.
Ketua IDI Medan dr Syah Mirsya Warli,Sp.U mengatakan,ke depan, IDI ingin ada sebuah gerakan komunikasi efektif antara dokter dengan pasien. Jika komunikasi ini berjalan baik, maka kekecewaan pasien tidak perlu meluas dan langsung pada tuduhan malpraktik. “Pasien boleh langsung bertanya ke dokter bagaimana dan mengapa. Komunikasi yang baik,akan menyenangkan kedua belah pihak. Saat ini, di beberapa fakultas kedokteran, mata kuliah komunikasi efektif semakin gencar, padahal dulu tidak ada.Kita harapkan mata kuliah ini membuat hubungan dokter dan pasien lebih terbuka,”ujar Syah Mirsya usai dilantik sebagai Ketua IDI Medan di Medan, akhir pekan lalu.
Pelantikan ini dilakukan setelah Maret 2010 dia terpilih sebagai ketua dalam Musyawarah Cabang (Muscab) IDI Medan. Dosen Universitas Sumatera Utara (USU) ini dilantik berdasarkan surat keputusan Pengurus Besar IDI Pusat No:452/PB/A.4/06/2010 tentang Pengesahan Susunan Personalia Pengurus IDI Cabang Medan Periode 2010-2013. IDI Medan mendukung peningkatan profesionalisme dokter untuk menghindari malpraktik. Namun, IDI Medan juga berharap agar masyarakat jangan terlalu cepat menghakimi dokter atas dugaan malpraktik.
Syah Mirsya mengakui, ada beberapa masalah yang harus dibenahi untuk kebaikan IDI dan profesi dokter ke depan. Salah satu di antaranya adalah peningkatan profesionalisme dokter yang bertujuan meminimalkan malpraktik. Syah Mirsya sendiri menilai, pemahaman masyarakat akan malpraktik masih rancu. “Masyarakat masih tidak mampu membedakan mana malpraktik, komplikasi dan efek samping dalam sebuah tindakan medis. Selama ini,yang terjadi terlalu cepat tenaga medis dijustifikasi,” ujarnya. Syah Mirsya menjelaskan, suatu tindakan malpraktik diputuskan saat ada ketetapan hukum.
Dia tidak memungkiri ada juga dokter yang melakukan malpraktik karena menjalankan tugas tidak sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).Jika hal seperti ini terjadi dan terbukti secara hukum, dokter tersebut akan ditindak tegas. “Namun, itulah sayangnya, sering kali masyarakat keburu menjustifikasi. Kami memahami kekecewaan pasien pasti ada.Ketika dalam kondisi sakit,sembuh tidak secepat yang diharapkan,”jelasnya. Dia menuturkan, sering kali pasien yang datang ke dokter langsung menginginkan hasil tanpa serangkaian pemeriksaan lengkap.Padahal,jika hendak memastikan penyakit, dokter harus melalui serangkaian wawancara dan uji laboratorium yang benar utuk kemudian mengambil kesimpulan.
Ketua I IDI Medan Ramlan Sitompul juga berharap agar masyarakat jangan terlalu cepat menghakimi dokter soal malpraktik.Penghakiman ini kerap membunuh karakter seorang dokter sehingga tidak nyaman lagi ketika melakukan tindakan medis. Bahkan, tutur Ramlan, di Jakarta ada sebuah kasus, di mana seorang dokter sampai bertanya ke tiap pasien yang akan berobat,apakah mengenal pekerja media atau pengacara.“Itu karena ketidaknyamanan dokter,” tegasnya. Ramlan menegaskan, tidak satupun dokter yang berniat merusak profesinya sendiri, karena mereka juga hidup dari profesi itu.
Selain masalah profesionalisme menurut Dolpin, IDI juga diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan dokter. Ketua IDI Sumut Henry Salim Siregar berharap IDI Medan menjadi barometer penting bagi IDI daerah lainnya di Sumatera Utara. IDI juga diharapkan mampu melindungi anggotanya dari segala persoalan.
Senin, 05 Juli 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar